<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327</id><updated>2011-07-28T23:57:08.989-07:00</updated><category term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Inila Pengusaha Muda Sukses</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-3054937768442857908</id><published>2010-09-19T06:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T06:53:16.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Pedagang tahu beromzet jutaaan</title><content type='html'>RODA kehidupan memang berputar. Kesabaran, ketekunan, kerja keras,dan pantang menyerah menjadi modal utama seorang pedagang tahu keliling yang kini menjadi bos pabrik yang memproduksi bahan makanan beromzet jutaan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Acim Artasin (45) yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, tepatnya di daerah Kebayoran Lama, sekira 1971 silam. Ketika itu, dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kedatangannya di Jakarta langsung membawanya mengenal acara berdagang di pasar tradisional. Akhirnya, sembilan tahun kemudian, Acim mulai menggeluti proses jual beli bahan makanan. Berdagang tahu menjadi pilihan pekerjaan baginya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Bisnis keluarga menjadi salah satu latar belakang Acim untuk ikut serta memasarkan tahu dengan sasaran rumah tangga. Mulailah Acim berdagang tahu keliling yang kala itu keuntungan yang didapatnya tidak lebih dari seratusan ribu rupiah per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setiap harinya Acim harus berjalan menyusuri jalan di bawah terik matahari, dia melakukannya untuk kehidupan yang diyakini akan lebih baik. ”Sambil berjualan keliling kompleks perumahan, saya juga mulai mengumpulkan modal untuk usaha,” ujar Acim saat ditemui harian Seputar Indonesia (SINDO) di pabrik tahu miliknya di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran, ketekunan, dan kerja keras tanpa mengeluh ternyata membuahkan hasil. Setelah lebih kurang 19 tahun berjualan tahu keliling, modal yang dikumpulkan Acim pun mulai menumpuk. Tidak banyak memang,namun bisa membuat pekerjaannya sedikit lebih ringan. Minimal, dengan modal yang dia punya, bisa membuatnya berjualan tahu di pasar tradisional tanpa harus keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000 mulailah Acim memasarkan tahunya di pasar tradisional. Meskipun sudah berjualan di pasar, Acim tidak berhenti mengumpulkan dana untuk memajukan usahanya. Tiga tahun lamanya di berjualan di pasar, peluang membesarkan usahanya nampak di depan mata. ”Awal 2003, ada pengusaha pabrik tahu yang bangkrut dan menawarkan saya untuk membeli pabrik dan alat-alat produksinya. Kesempatan itu langsung saya ambil,” ucapnya mengenang. Sebuah pabrik pengolahan tahu yang berdiri di atas tanah seluas 100 meter persegi menjadi titik balik perjalanan usaha Acim yang lebih besar. Untuk memulai menjadi seorang bos industri pengolahan bahan makanan, Acim tentu harus merogoh kantong lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membeli bangunan pabrik pengolahan, dibutuhkan dana yang tidak sedikit, yakni berkisar Rp9 juta. Sementara untuk membeli perabotan dan beberapa alat produksi pengolahan tahu seperti mesin uap,tungku air,dan lainnya, Acim membutuhkan dana minimal Rp7 juta. Tentu saja dana tersebut lumayan besar di mata Acim. Namun, tekadnya sudah sebesar gunung untuk mengambil kesempatan ini dan bisa memulai bisnis dengan keuntungan yang cukup menjanjikan di kemudian hari. Dua tahun kemudian, Acim memutuskan menjalankan bisnis ini. Awal tahun 2005, Acim memberanikan diri meminjam modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp35 juta yang untuk membeli lahan pabrik dan bangunannya beserta peralatan pengolahan tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Harga tanah sendiri sudah sangat mahal sekitar Rp50 juta, tapi bisa dicicil.Jadi pinjaman dari bank bisa untuk memulai usaha sambil menabung untuk melunasi utang tanah dan utang ke bank,” jelasnya. Sadar tidak mampu menjalankan industri pengolahan makanan seorang diri, Acim merekrut tujuh tenaga kerja yang sudah terampil dalam menjalankan mesin pengolahan maupun yang masih baru. Bahkan,dia pernah mempekerjakan 20 orang sekaligus. Namun, jumlah tersebut tidak bertahan lama.Kini,di pabrik kecil miliknya itu, dia mempekerjakan sedikitnya sembilan tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acim menceritakan, pada awalnya, industri pengolahan tahu miliknya hanya mampu memproduksi sedikitnya 1 kuintal tahu per hari yang kemudian didistribusikan ke pasar tradisional di daerah Ciputat dan sekitarnya. Menurutnya, tidak banyak keuntungan atau omzet yang diperolehnya pada masa awal menjalankan bisnis ini. ”Paling besar keuntungan per hari hanya Rp300.000. Itu pun sudah dikurangi dengan belanja bahan dasar pembuat tahu dan upah pekerja di sini,” paparnya. Optimisme terpancar dalam diri Acim. Meskipun kondisi awal tidak menguntungkan dan jauh dari ekspektasinya, dia tetap yakin bisnis yang dijalankan akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme yang tinggi membawanya bekerja lebih keras. Alhasil, perlahan tapi pasti, pabrik miliknya mulai berkembang. Acim bukanlah orang pertama yang memiliki pabrik pengolahan tahu di daerah Ciputat dan sekitarnya. Kerasnya persaingan dan kualitas bahan makanan jadi yang diolah di pabrik dan dipasarkan di pasar tradisional membuat Acim tidak boleh menyerah. Alhasil,kini pabrik pengolahan tahu miliknya mampu memproduksi sedikitnya 6 kuintal tahu per hari untuk dipasarkan di rekanannya di pasar Ciputat dan sekitarnya. Lebih dari 1.000 tahu putih ukuran besar dan 790 tahu ukuran kecil yang biasanya dikonsumsi di rumah tangga dihasilkan dari pabrik kecil miliknya. Tentu saja, kuantitas ini harus dibayar cukup mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya produksi dalam sehari mencapai Rp5 juta. Biaya itu tidak hanya dipergunakan untuk membeli bahan dasar pengolahan tahu, biaya proses pengolahan,dan upah bagi para pekerjanya. Jika sehari saja biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp5 juta,maka selama kurun waktu satu bulan, dana sebesar Rp150 juta harus dikeluarkan untuk memproduksi tahu-tahu berkualitas dan bergizi tinggi. Keuntungan yang didapatnya pun terbilang sudah cukup besar baginya. Jika pada awalnya hanya meraup keuntungan Rp300.000 per hari, kini omzetnya jauh di atas itu. Sayangnya, dia enggan menyebutkan omzet yang didapatnya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang jelas bisa untuk menutupi biaya produksi dan bisa membayar cicilan utang ke bank,” katanya sambil tersenyum. Untuk mendistribusikan hasil pengolahannya, Acim juga memiliki sebuah mobil operasional berjenis pikap yang siap mengantarnya ke pasar tradisional setiap malam. Salah satu kebanggaannya dengan bisnis ini, Acim sudah berhasil mengantarkan anaknya menjalani proses pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap usaha menuju kesuksesan kerap menemui hambatan. Begitu pula yang terjadi pada bisnis industri pengolahan bahan makanan yang dirintis Acim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya menapaki dunia usaha tidak berjalan mulus. Insiden kebakaran yang melanda pabrik tahu miliknya adalah duka terdalam selama dia menjalankan bisnis ini. Amukan si jago merah pada 2005 silam membumihanguskan seluruh bangunan pabrik tahu beserta isinya. Beruntung, rumah tinggalnya yang persis berdampingan dengan pabrik itu tidak ikut habis terbakar. ”Semua ludes dan tidak bersisa. Yang tersisa hanya pakaian yang menempel di badan saja. Ini cobaan terberat selama saya menjalankan usaha ini,” kenang Acim. Kebakaran yang terjadi lima tahun silam bermula karena mampetnya minyak tanah dalam tungku sehingga membuat api di tungku uap membesar dan melahap seluruh barang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras Acim pun seolah habis tidak bersisa. Akibat insiden amukan si jago merah tersebut, Acim mengalami kerugian sekitar Rp100 juta,angka yang cukup besar baginya. Pascakebakaran,tentu saja semua harus dimulai dari awal lagi. Acim mulai mengumpulkan modal untuk melanjutkan usahanya. Acim pun menggadaikan mobil operasional miliknya untuk mendapatkan dana Rp35 juta. ”Waktu itu tidak berutang lagi karena dibantu oleh saudara-saudara saya yang menyumbangkan barang-barang berharga untuk modal saya.Dari saudara-saudara,saya dapat Rp30 juta,”papar Acim. Tidak mau menyerah dengan keadaan, Acim mulai merangkai kembali usahanya.Tragedi kebakaran tersebut justru semakin memperbesar usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan pabrik yang semula hanya 100 meter persegi kini diperlebar hingga menjadi 200 meter persegi.Bangunan pabrik miliknya terlihat lebih luas dan bisa dipergunakan untuk memaksimalkan produksi tahu.Selain itu,dia juga berhasil menebus kembali mobil operasional yang digadaikan untuk memulai usaha pascakebakaran. Bahkan, kini Acim sudah terlihat lebih maju beberapa langkah. Pada sepetak lahan di depan pabriknya, terparkir sebuah mobil keluarga. Meskipun dibeli dengan mencicil Rp4,5 juta per bulan, mobil itu seolah menjadi bukti keberhasilan kerja keras Acim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://economy.okezone.com/read/2010/09/19/22/373549/juragan-tahu-yang-kini-beromzet-jutaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-3054937768442857908?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/3054937768442857908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/pedagang-tahu-beromzet-jutaaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/3054937768442857908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/3054937768442857908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/pedagang-tahu-beromzet-jutaaan.html' title='Pedagang tahu beromzet jutaaan'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-6424376612115216911</id><published>2010-09-08T18:30:00.001-07:00</published><updated>2010-09-08T18:30:42.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Fatchur Rozi,Inspirasi sandal imucu</title><content type='html'>Buatlah karet sandal dengan bentuk bundar tipis. Kalau suka buah-buahan, boleh dibuat gambar seperti belahan buah semangka dalam tampilan dua dimensi. Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Oleh Fatchur Rozi karet sandal itu dibelah jadi dua. Tanpa dipotong lagi dan hanya diberi jepit sandal maka jadilah sepasang sandal jepit, sandal yang imut dan lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sekadar main-main, karena sandal-sandal buatan Fatchur Rozi ini sekarang sudah menyebar ke mana-mana bahkan sudah menyeberang ke berbagai negara. Tak cuma sandal model buah semangka itu, Fatchur Rozi juga membuat aneka model sandal lucu yang terus dikembangkannya. Setidaknya yang favorit adalah sandal model semangka, sandal dengan bentuk sepasang ikan lumba-lumba, lingkaran terbagi dua, topeng terbelah, dan sebagainya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popularitas sandal ini sudah cukup tinggi. Di kalangan komunitas Tangan Di Atas (TDA) -di mana ia menjadi anggotanya, rata-rata tahu sandal ini. Fatchur sendiri memberi nama yang tak kalah lucunya, Imucu, yang merupakan kependekan dari Sandal Imut, Unik, dan Lucu! Jadi dobellah keunikannya. Keunikan Imucu itu bahkan membuat sebagian anggota TDA tertarik untuk ikut berjualan sandal unik ini dengan melamar menjadi agennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena dorongan yang bertubi-tubi atau memang karena melihat peluang besarnya, Fatchur kini pun menawarkan kemitraan&amp;nbsp; Imucu. Tengok penawaran kemitraannya: 7 alasan memilih sendal IMUCU. (1) BEP super cepat 1-2 bulan, (2) Tanpa beli equipment, (3) Tanpa sewa tempat dan bayar karyawan, (4) Tak perlu keluar kerja untuk sukses, (5) Bebas royalty fee selamanya, (6) Gratis konsultasi bisnis seumur hidup, dan (7) Garansi uang kembali 100%.&amp;nbsp; Dalam iklannya pun selera humor Imucu masih terasa. Jadinya Imucu serba imut, unik, dan memang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, ya, Fatchur menawarkan paket kemitraan agennya dengan modal mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 2 juta. (Den Setiawan, den.setiawan@yahoo.co.idAlamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Foto: Dok. Imucu. Cerita lengkap Imucu ada di Majalah DUIT! Edisi No 08/IV/Agustus 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandal Imut, Unik, dan Lucu (Imucu)&lt;br /&gt;Kebonsari Regency C-39 Surabaya&lt;br /&gt;031-77761700&lt;br /&gt;website: http://www.rajasendal.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-6424376612115216911?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/6424376612115216911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/fatchur-roziinspirasi-sandal-imucu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/6424376612115216911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/6424376612115216911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/fatchur-roziinspirasi-sandal-imucu.html' title='Fatchur Rozi,Inspirasi sandal imucu'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-9182591007821743825</id><published>2010-09-08T18:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T18:28:42.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Yessi Riscowati,Pionir Bisnis Busana Muslim</title><content type='html'>Adalah Ibu Yessi Riscowati, istri dari Hefzi Zainuddin, yang memulai usaha pakaian muslim, dari kerudung hingga perlengkapan sholat. Bisnis itu tidak asing bagi Ibu Yessi karena orang tuanya pun menjalani bisnis perlengkapan haji di Asrama Haji, Pondok Gede. Saat itu, Ibu Yessi berbisnis sambil menanti kelahiran putra pertamanya, Alzipco Hefzi. Tak dinyana, usahanya berkembang pesat dan dia mulai mendapat banyak pesanan. Dibelilah satu mesin jahit dan mempekerjakan satu orang tukang jahit. Alhamdulillah, Allah menitipkan rezeki berlimpah kepadanya hingga bisnisnya berkembang pesat. Ibu Yessi kemudian meluncurkan produk dengan nama Ziko, sesuai dengan nama anaknya. Produk itu bertahan selama dua tahun karena prospek yang kurang cerah. Setelah dievaluasi, nama Ziko yang terdengar aneh pun diganti dengan Ranti.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranti dan Konsep Muslim Family&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ranti ternyata diambil dari nama putri Ibu Yessi, yaitu Rizanti Hefzi, yang artinya “rezeki anak ketiga”. Ibu Yessi memang pernah mengalami keguguran saat kehamilan pertamanya. Setelah Ranti disematkan pada produknya, usaha Ibu Yessi berkembang sangat pesat. Selain karena pada waktu itu (periode 1980-an) belum banyak pesaing di bisnis busana muslim, Ranti juga jadi pionir karena keunggulan produknya yang menggunakan aplikasi, organdi, sutera, bordiran, serta payet. Tak hanya itu, Ranti juga meluncurkan konsep Muslim Family dengan tagline: SATU AQIDAH, SATU KELUARGA, SATU BUSANA. Konsep ini dinilai manjur dalam menanamkan kembali brand Ranti di masyarakat sebagai pelopor busana muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perluasan marketing dan segmentasi, Ranti dalam waktu dekat juga meluncurkan produk untuk remaja dengan nama ALETA, serta produk baju koko dengan nama El-Yusuf dan El-Fatih. Segmentasi Aleta adalah kaum muslimah remaja yang senang bergaya dengan harga ekonomis. Sementara El-Yusuf dan El-Fatih adalah produk baju koko yang dipasarkan dengan cara berbeda, yaitu lewat keagenan dan outlet atau di departemen store.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merangkak Saat Diterpa Krisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kunci kekuatan dari bisnis yang sukses adalah mampu bertahan saat krisis menerpa. Begitu pula saat krisis melanda Indonesia medio tahun 1990-an dan 2000-an, Ranti juga terkena dampaknya. Pengurangan pegawai dilakukan karena ketatnya harga dan persaingan yang juga semakin memanas. Untuk tetap keep on the track, Ranti pun mengikuti program business coach pada tahun 2007 hingga sekarang dengan harapan dapat kembali menajamkan strategi bisnisnya. Hasilnya pun luar biasa, evaluasi saat krisis membawa Ranti pada perbaikan manajemen dan penguatan brand di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranti yang segmentasi pasarnya adalah muslimah dewasa kalangan menengah ke atas tetap mendapat tempat di hati masyarakat apalagi setelah beberapa artis menjadi ikonnya, sebut saja: Ulfa Dwiyanti dan Gunawan. Penggunaan artis sebagai brand imej Ranti tidak murni faktor kesengajaan, melainkan adapula faktor pertemanan dan hubungan baik, seperti artis Ulfa Dwiyanti yang merupakan sahabat dari Ibu Yessi sehingga meminta untuk dibuatkan gaun pengantin saat pernikahannya. Sejak tahun 2008 hingga kini, Gunawan dan keluarga masih menjadi brand imej Ranti yang mengusung konsep Muslim Family. Walhasil, segmen peminat Ranti semakin luas dengan adanya konsep Muslim Family tersebut karena setiap keluarga muslim dapat memenuhi kebutuhan pakaian muslimnya di Ranti, mulai dari kakek-nenek, orang tua, anak-anak, hingga adik bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto Gratis dan Jadi Model Ranti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi member Ranti, banyak fasilitas yang didapatkan, antara lain: dapat menjadi model Ranti dengan foto keluarga gratis di studio Ranti. Ya, Ranti menyediakan foto keluarga gratis dengan mengenakan produk Ranti yang nantinya akan dipajang di berbagai showroom Ranti di seluruh Indonesia. Selain bisa mendadak jadi model, member Ranti juga mendapatkan potongan harga 15% serta diundang dalam berbagai acara yang digelar Ranti, bahkan ke depannya juga dapat digunakan di merchant yang bekerja sama dengan Ranti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang tertarik untuk melihat koleksi produk Ranti dapat menjumpai Ranti di berbagai showroom, ruko, dan outlet Ranti. Ruko Ranti terdapat di Rawamangun, para member dapat menikmati layanan mushola dan aula di ruko ini. Sementara itu, showroom Ranti terdapat di berbagai mal, yakni di Cibubur Junction, Margo City Depok, Pejaten Village, Arion Plaza, Metropolitan Mall Bekasi, Bandung Indah Plaza, Duta Mall Banjarmasin, dan akan hadir di Gandaria City serta di Surabaya dan Makassar. Selain itu, outlet Ranti dapat ditemui di Matahari dan Yogya Departemen Store.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga produk pakaian muslim Ranti yang dijual di pasaran berkisar Rp700 ribu—Rp2 juta, angka itu sebanding dengan proses produksi yang berkualitas yang dikerjakan oleh tenaga-tenaga profesional di Head Office Ranti: Jalan Raya Hankam No. 12, Pondok Gede, Bekasi, telp. 021-848 7026. Tak heran, dengan pasar yang loyal serta strategi bisnis yang tajam, Ranti mampu mentargetkan omset sebesar Rp1,5—Rp2 milyar per bulan. (ind)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-9182591007821743825?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/9182591007821743825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/yessi-riscowatipionir-bisnis-busana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/9182591007821743825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/9182591007821743825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/yessi-riscowatipionir-bisnis-busana.html' title='Yessi Riscowati,Pionir Bisnis Busana Muslim'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-8790455239090001900</id><published>2010-09-08T18:25:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T18:25:23.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Velly Kristanti,inspirasi  Klenger Burger</title><content type='html'>Klenger Burger, Kisah Sukses Pejuang Kuliner Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa sebuah burger mengubah nasib Velly Kristanti dan mampu hasilkan omset hingga milyaran rupiah per bulan? Beginilah ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari Pondok Sayur Asem&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah makan Pondok Sayur Asem adalah usaha yang pernah dirintis Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, pada 2002 saat masih berstatus pegawai kantoran. Namun, usaha rumah makan itu tidak terlalu sukses, ia pun sempat frustrasi.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004, Velly dan suami terjun bebas melepaskan status pegawai dan mendirikan bisnis advertising syariah dan gagal lagi. Kemudian, bisnis IT juga pernah dilakoninya dan setali tiga uang, kesuksesan belum juga menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampai di titik nol dan satu-satunya yang mereka punya hanya Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengaku tak pernah belajar dari chef mana pun, Velly dan suami menganalisis dan meracik sendiri visi burger mereka, tentunya yang khas dan pas dengan lidah orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan. Intinya, bikin orang jadi 'klenger'!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Klenger Menjelajah Negeri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama 'klenger' diambil dari kosakata bahasa Jawa yang bisa berarti 'setengah mati', atau 'klepek-klepek', namun, Velly lebih suka mempersepsikan 'klenger' dengan analogi 'tobat sambel', sudah tahu sambel pedas tapi mau lagi mau lagi. Begitulah nama 'klenger' akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain nama yang gampang diingat serta rasa dan servis yang memuaskan, Klenger Burger juga sukses dengan persebaran outletnya yang pada tahun 2010 ini berupaya mencapai target 100 outlet di seluruh negeri. Tak heran, “Jelajah Negeri” jadi tema Klenger Burger untuk tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, target itu akan mudah tercapai mengingat hingga April 2010 ini, Klenger sudah mempunyai 63 outlet yang tersebar di Jabotabek, Bandung, Kuningan, Bali, dan Medan.Selain itu, ada 8 outlet yang mau opening, serta tambahan 6 outlet yang sedang dalam preparation juga.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Outlet Foodteran Klenger Burger di Bintaro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal paten, Klenger Burger tak mau kalah cepat. Sejak lahir, brand Klenger sudah dipatenkan atas nama Velly Kristanti.Meskipun demikian, tiruan Klenger Burger ternyata sudah merajalela dan Velly pun mewanti-wanti agar masyarakat dapat dengan bijak memilah mana Klenger asli dan mana yang palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Velly pun masih mengurus kasus tersebut lewat jalur hukum. Selain hak paten, sertifikat halal dari MUI pun sudah dikantongi sejak Klenger masih dibuat secara rumahan di Bekasi hingga Klenger diproduksi massal dengan menggunakan mesin saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logo Klenger Burger pun mempunyai filosofi yang tak kalah keren. Kalau Anda biasa melihat tulisan merk burger ada di tengah-tengah gambar burger, Klenger Burger menyajikan logo yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan "Klenger Burger" ada di atas burger, yang artinya kurang lebih, kita sebaiknya melihat segala sesuatu tak hanya dari pandangan mata tapi dari segala aspek, istilah kerennya: Beyond Burger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi tersebut dianut Klenger untuk lebih dekat kepada masyarakat. Untuk memperkenalkan burger dengan cita rasa Indonesia, tak serta merta Klenger memaksakan rasa tertentu kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pendekatan rasa dan budaya digunakan Klenger untuk menarik market. Misalnya saja, di Medan, Klenger membuat menu spesial, yaitu burger omelet yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat yang sangat suka dengan telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain burger, Klenger juga memperkenalkan brand Pizza Kriuk, Clemots Coffee, dan Kweker Fried and Grilled Duck. Pizza bikinan Klenger juga masih bercita rasa Indonesia, misalnya saja pizza balado dan pizza sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klenger memang addict untuk membuat brand-brand baru di bawah PT Kinarya Anak Negeri (KAN), perusahaan yang digawangi Velly dan suami. Brand-brand ini pun mempengaruhi strategi marketing Klenger ke masyarakat, dan tentunya investor yang berminat menjadi Franchisee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah ada Burins (Burger Instan) yang menganut konsep take away, dapat ditemui di jaringan Alfa Express dan Circle K, 2K (Klenger Kriuk) yang menyediakan menu burger dan pizza dengan tempat buat kongkow yang asyik, Foodteran dengan konsep kolaborasi Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots Coffee dalam satu area yang menyuguhkan pilihan variasi lengkap dengan teknologi support Free WIFI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ujian Ibarat Semester Pendek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat semester pendek saat kuliah, Velly merasakan ujian yang menimpanya dalam waktu singkat telah membawa begitu banyak pelajaran berharga. Dari ditipu orang, modal habis-habisan, sampai frustrasi, membuat Velly dan suami belajar ikhlas dan mencoba bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin serta kesuksesan itu bukan suatu proses yang instan adalah resep Velly dalam menggodok bisnisnya. Meski bisnisnya berkembang pesat, Velly merasa belum di puncak sukses. Ibu dari Raka dan Zahra lulusan D3 Sastra Belanda FIB UI ini masih merasa banyak PR yang harus dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari maintenance outlet, training SDM, hingga pengembangan usaha. Soal tawaran dari luar negeri, Velly mengaku, telah menampik tawaran tersebut karena ingin berjaya di negeri sendiri baru menginjakkan kaki di negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outlet Klenger Burger diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Green Box, Yellow Box, dan Red Box. Untuk Outlet Green Box, omset yang diraup Klenger dapat mencapai lebih dari Rp2 juta/hari, Yellow Box Rp1—Rp1,5 juta/hari, Red Box kurang dari Rp1 juta/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara outlet yang baru dibuka digolongkan di Blue Box yang butuh penanganan khusus serta ada pula Black Box yang merupakan golongan outlet yang perlu direlokasi dan ditinjau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang berminat icip-icip burger dengan cita rasa Indonesia atau tertarik untuk berinvestasi menjadi franchisee Klenger Burger mulai dari Rp15 juta dapat menghubungi PT KINARYA ANAK NEGERI di Jln. R.C. Veteran No.21, Bintaro, Jakarta Selatan. Telp. 021 737 3589, website: www.kinarya.co.id, klengerburger.blogspot.com (ind)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-8790455239090001900?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/8790455239090001900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/velly-kristantiinspirasi-klenger-burger.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/8790455239090001900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/8790455239090001900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/velly-kristantiinspirasi-klenger-burger.html' title='Velly Kristanti,inspirasi  Klenger Burger'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-2047614697573785185</id><published>2010-09-01T00:05:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T02:43:37.688-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Riezka Rahmatiana,Inspirasi pisang ijo</title><content type='html'>Jasmine memang berarti melati. Dalam plesetan yang dibuat perempuan Riezka Rahmatiana (23), kata ”jasmine” diubah menjadi ”JustMine” untuk mengangkat penganan tradisional pisang ijo asli Makassar ke masyarakat. Bahkan, pisang ijo ini dijadikan peluang usaha waralaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip semerbak keharuman bunga melati, gadis kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 26 Maret 1986 ini mengawali usaha kecilnya pada saat duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Kini, kartu namanya sudah tertulis Riezka Rahmatiana sebagai Presiden Direktur ”JustMine”.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Semangat kewirausahaan, begitulah yang mengawali Riezka. Awalnya, kata Riezka, adalah kesumpekan. Banting tulang orangtuanya dalam mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk menyekolahkan anak-anak, mendasari pikiran Riezka untuk berupaya agar dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.&lt;br /&gt;Orang tua bekerja sejak pagi hingga larut malam. Hasil banting tulang seharian dilakukan untuk meraih gaji. Kemandirian wirausaha itulah yang secara diam-diam tumbuh dalam diri Riezka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya tidak mau menyusahkan orangtua. Berbekal modal awal Rp 13,5 juta, tahun 2007 bisnis makanan pisang ijo yang segar mulai menjadi pilihan untuk dipasarkan di Kota Bandung,” kata Riezka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengambil keputusan berwirausaha di sela-sela kuliahnya, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku mendapat larangan keras dari orangtuanya. Mereka menganjurkan dia agar mencari pekerjaan yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riezka pun menuturkan jatuh dan bangunnya mencicipi aneka pekerjaan di sela-sela kuliahnya. Mulai dari menjadi anggota jaringan pemasaran alias multi level marketing (MLM), penjual pulsa telepon seluler, hingga menjajal bekerja di sebuah kafe. Dari sebagian menyisihkan penghasilan bekerjanya selama itulah, Riezka memulai usaha pisang ijo khas Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 16 Maret 2009 menjadi momentum perjalanan wirausahanya. Riezka memang belum pernah ke Makassar, tetapi ketekunannya mencari penganan tradisional dan kemauannya untuk belajar memproduksi pisang ijo itulah menjadi modal dasarnya. Tanya-tanya resep pun terus dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisang dipandang sebagai bahan baku yang relatif murah dan selalu mudah diperoleh di pasar. Hanya dengan dibalut adonan tepung beras yang diberi warna hijau, sajian khas ini bisa mulai dipasarkan dengan nama tren Pisang Ijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah kreativitas Riezka bermunculan. Dari sajian pisang ijo orisinal, Riezka mengembangkannya dengan aneka rasa, seperti pisang ijo vanila, stroberi, coklat, dan durian. Semangkok pisang ijo yang disiram sedikit cairan fla yang gurih akan menjadi bertambah segar apabila ditambah pecahan es batu. Apalagi, kreativitasnya dilakukan dengan menambahkan serutan keju dan mesis coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan tak terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan menjadi entrepreneur terjadi justru ketika Riezka membaca buku berjudul Cashflow Quadrant bahwa tidak ada karyawan yang bisa memperoleh penghasilan tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah hipotesis tersebut? Riezka membuktikan lewat ketekunannya. ”Kalau orang atau setidaknya orangtua saya bekerja dari pagi hingga malam, untuk pada akhirnya mencari penghasilan, saya justru sebaliknya. Kita semestinya tidak bekerja mengejar penghasilan, tetapi biarlah uang mendatangi kita,” ujar Riezka yang akhirnya mewaralabakan usahanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari usaha kecilnya ini, Riezka membuka peluang berinvestasi dengan sistem waralaba. Alhasil, dari satu gerai, kini ada 10 pewaralaba pisang ijo yang tersebar, terutama di kota Bandung, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan mitra pun dilakukan selektif karena visi yang diemban adalah ”Kepuasan konsumen adalah kepuasan kami. Kesuksesan mitra adalah kesuksesan kami.” Pemilihan gerai bukan sekadar melihat berkas yang diajukan calon mitra, apalagi uang waralaba yang disiapkan mitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penelitian lokasi pasar, Riezka berani mengambil keputusan diterima atau tidaknya seorang mitra. Dia pun memprediksi, besarnya potensi pasar terhadap produknya di lokasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sasarannya tetaplah mahasiswa. Karena itu, lingkungan kampus menjadi target lokasi,” kata Riezka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama sahabatnya, Erwin Burhanudin, Riezka membangun sistem waralaba. Mereka pun mengaku tidak ingin gegabah memperoleh sebanyak-banyaknya pewaralaba. Kapasitas produksi tetap harus menjadi acuan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat atau lambat, Riezka yang murah senyum kini sudah mulai menuai hasil. Enam karyawannya ikut bekerja keras menunjang usaha waralabanya dengan memproduksi sekitar 500 porsi setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal keuntungan, pokoknya sangat menggiurkan. Sebagai wirausaha muda yang berhasil masuk sebagai finalis tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri 2008, Riezka hanya berharap, setitik perjalanan hidupnya bisa memberikan napas kehidupan masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #006600; font-family: trebuchet ms; font-size: 85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://karanetclub.wordpress.com/"&gt;&amp;nbsp;Kalau kita ingin sukses, kita harus "bertanya" kepada orang yang diatas  rata-rata ( orang yang lebih sukses ) dan "mendengarkan" nasihat  mereka."&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.location%20=%20'http://www.socialmarker.com/?link='+encodeURIComponent%20(location.href)+'&amp;amp;title='+encodeURIComponent(%20document.title);"&gt;&lt;img alt="share" border="0" src="http://www.socialmarker.com/bookmark.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-2047614697573785185?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/2047614697573785185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/riezka-rahmatianainspirasi-pisang-ijo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/2047614697573785185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/2047614697573785185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/09/riezka-rahmatianainspirasi-pisang-ijo.html' title='Riezka Rahmatiana,Inspirasi pisang ijo'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-5532374140174081542</id><published>2010-08-31T23:47:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T02:46:25.563-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Made ngurah,inspirasi Edam burger</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;Lulusan STM bangunan ini  mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10  pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia.  Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang  keras di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan  pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga  botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam  wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti  bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-244"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil  tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak  terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah  Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made  bercerita.)&lt;br /&gt;Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya  banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak  mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana:  bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang  yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12  April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya  terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil  pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak  pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke  kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke  pasar.&lt;br /&gt;Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru.  Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau  sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu,  sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau  makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENSIUN JADI PREMAN&lt;br /&gt;Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun  1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya  menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut,  saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur  bis PPD.&lt;br /&gt;Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada  kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada  saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak  bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap  mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu  membenarkan letak kacamatanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan  telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke  pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih  menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet  zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal.  Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.&lt;br /&gt;Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun  itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh  karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu  Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok  Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar,  tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut.  Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu,  saya hidup mengontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYARIS TERSAMBAR PETIR&lt;br /&gt;Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa  sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada  salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga  diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman  untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.&lt;br /&gt;Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan  mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya  menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger  dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat  indah.&lt;br /&gt;Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun,  saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih  untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa  ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika  itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba  hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju  belepotan tanah. Rasanya miris sekali.&lt;br /&gt;Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang  menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin  berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya  mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai  ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga  berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari  saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil.  Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah.  Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua  pada anak buah.&lt;br /&gt;Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti  sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur,  hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus  burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan  burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://karanetclub.wordpress.com/"&gt;&lt;i&gt;" Nasib baik adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan.&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; "&lt;/div&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;a href="javascript:window.location%20=%20'http://www.socialmarker.com/?link='+encodeURIComponent%20(location.href)+'&amp;amp;title='+encodeURIComponent(%20document.title);"&gt;&lt;img alt="share" border="0" src="http://www.socialmarker.com/bookmark.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-5532374140174081542?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/5532374140174081542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/08/made-ngurahinspirasi-edam-burger.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/5532374140174081542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/5532374140174081542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/08/made-ngurahinspirasi-edam-burger.html' title='Made ngurah,inspirasi Edam burger'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2934268967417139327.post-3975101767935559213</id><published>2010-08-31T23:32:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T02:45:18.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengusaha muda'/><title type='text'>Hendy setiyono,inspirasi kebab baba rafi</title><content type='html'>Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah  Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya  tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?&lt;br /&gt;Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia  berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak  tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1  miliar per bulan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-324"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba  Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan  sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai  mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi  Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab  di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk  seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut  mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency,  kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi,  karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke  kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul  11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor  lebih dari pukul 12.00.&lt;br /&gt;Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya  tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat  dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui  mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak  beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki.  Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon  pelanggan.&lt;br /&gt;Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang  bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru  sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang  dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi  makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi  masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga  rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang  Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung  terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya,  selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga  keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya,  mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa  bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.&lt;br /&gt;“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu  resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai  pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah  dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2,  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi  bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin  usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya  yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan  trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.&lt;br /&gt;“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya  cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar.  Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih  familier dengan orang Indonesia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai  beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo,  berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan.&lt;b&gt; “Membuat gerobak  lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal.  Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” &lt;/b&gt;ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak  pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak  komersial,” katanya lalu tergelak.&lt;br /&gt;Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau  dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti  bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”&lt;br /&gt;Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih  sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak  itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan  yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,”  ungkapnya.&lt;br /&gt;Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan  istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli  kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu  digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu  pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA  Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku  kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak  menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy  yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS  tersebut.&lt;br /&gt;Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis  kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi  orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan  modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah  proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam  hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti  berhasil,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya  dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan,  hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki  100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia.  Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan  Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri.  Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan  majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut.  Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad  &amp;amp; Tobago serta Kamboja,” jelasnya.&lt;br /&gt;Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai  award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA  (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang  diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai  ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week  International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20  kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha  Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia.  Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan  yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006,  majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh  tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.&lt;br /&gt;Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke  mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates.  “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia  bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. &lt;b&gt;Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,”&lt;/b&gt; tegasnya lalu tertawa. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://karanetclub.worpress.com/"&gt;&lt;i&gt;" Satu - satunya yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah dan sikap yang negatif.&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="javascript:window.location%20=%20'http://www.socialmarker.com/?link='+encodeURIComponent%20(location.href)+'&amp;amp;title='+encodeURIComponent(%20document.title);"&gt;&lt;img alt="share" border="0" src="http://www.socialmarker.com/bookmark.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2934268967417139327-3975101767935559213?l=inilahpengusaha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/feeds/3975101767935559213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/08/hendy-setiyonoinspirasi-kebab-baba-rafi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/3975101767935559213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2934268967417139327/posts/default/3975101767935559213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inilahpengusaha.blogspot.com/2010/08/hendy-setiyonoinspirasi-kebab-baba-rafi.html' title='Hendy setiyono,inspirasi kebab baba rafi'/><author><name>Adi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17948799650352395614</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
